Kotagede Heritage
 

Sekapur Sirih

Kotagede merupakan Ibukota Kerajaan Mataram Islam Pertama (1577), sebagai penerus Kerajaan Demak dan Pajang.

 selengkapnya

Between Two Gates I

between2gates

Dalam bahasa Indonesia, Between Two Gates diartikan sebagai “Di Antara Dua Gerbang”. Frasa ini digunakan untuk menyebut salah satu bentuk sistem tata lingkungan kampung di Kotagede, khususnya di Kampung Alun-alun RT 37 RW 09 Kelurahan Purbayan. Menurut tahun yang tertera di tembok pintu gerbang sebelah timur, permukiman ini sudah ada semenjak tahun 1840, termasuk di antaranya rumah saudagar Atmosoeprobo.

Selanjutnya...
 

Komentar ()


Semangat Gotong Royong di Bedhol Keprajan

bedhol2012

Adanya arak-arakan Bedhol Keprajan yang diselenggarakan sebagai pembuka Pekan Wisata Budaya Kotagede 2012 yang diadakan Jumat (7/12) lalu juga ikut memupuk kembali semangat gotong royong warga. Paling tidak dari pengamatan website Kotagede Heritage dari sejumlah kampung yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan itu terlihat begitu terlihatnya semangat kebersamaan warga baik saat menyiapkan berbagai properti untuk arak-arakan, latihan dalam berparade sampai saat mereka unjuk kebolehan di jalan-jalan utama Kotagede.

Seperti warga Alun-alun, Kelurahan  Kotagede, yang dalam pawai itu ingin menggambarkan rombongan pengikut Ki Ageng Pemanahan yang memboyong berbagai perlengkapan Keraton Pajang ke Mataram juga harus begadang untuk 'ngelembur' membuat properti berbagai perlengkapan keraton. Dari mulai umpak keraton, dhampar, tiang, hingga bedug untuk keperluan masjid gedhe. "Demi kampung direwangi ngelembur tak apa-apa," cerita salah seorang warga.

 

Selanjutnya...
 

Komentar ()


Pekan Wisata Budaya Kotagede 2012

 Pekan Wisata Budaya Kotagede 2012

Pekan Wisata Budaya Kotagede 2012

(7-9 September 2012)

 

Rangkaian Acara :


7 September | 16.00 WIB

Arak-arakan Alegoris BEDHOL KEPRAJAN (start Lapangan Karang Finish Kompleks Watu Gilang)

 

7 September | Mulai 17.00 WIB

Pentas Seni di Pendopo ex Tuta & Pendopo Kajengan


8 September | 10.00- 24.00 WIB

Pentas Seni di Pendopo ex Tuta, Pendopo Bumen dan Pendopo Kajengan

8 & 9 September
| 20.00 WIB

Wayang Kulit di Lapangan Karang dan Pendopo ex Tuta

7 - 9 September
| 10.00 - 21.00 WIB

Pameran Potensi Kotagede di Halaman Pendopo ex Tuta

7 - 9 September
| 10.00 - 21.00 WIB

Bazaar Kerajinan dan Kuliner di Halaman Pendopo ex Tuta

 

Selanjutnya...
 

Komentar ()


Arak-Arakan Alegoris Lintasan Sejarah “Bedhol Keprajan”

Arak-Arakan Alegoris Lintasan Sejarah “Bedhol Keprajan”

Rancangan Arak-arakan Budaya dalam rangka FESBUK 2012
Penggagas : Erwito Wibowo:

 

I.      SEJARAH TERJADINYA ARAK-ARAKAN ALEGORIS LINTASAN SEJARAH “BEDHOL KEPRAJAN”

Berangkat dari dasar pemikiran bahwa Kotagede adalah Kota Tua yang telah berusia lebih empat abad. Semula didirikan sebagai Ibu Kota Kerajaan Mataram Islam di tanah Jawa. Sebagai kota tua, sisi kehidupan tradisionalnya ternyata mampu berjalan seiring dengan kehidupan modern. Artinya, Kotagede terus tumbuh dan berkembang sebagaimana kebudayaan yang menjadi nafas kehidupan juga terus tumbuh dan berkembang secara dinamis. Kehidupan budaya di Kotagede makin lama makin menjadi kaya karenanya.

Kekayanan budaya, atau potensi budaya itu dibiarkan berproses dan berjalan secara alamiah. Dikhawatirkan dengan terjadinya percepatan perubahan dan pertumbuhan kota, misalnya ketika Kotagede makin menyatu dengan Yogyakarta, ketika terminal bus Kota Yogyakarta makin mendekati Kotagede ditambah dengan berbagai proses migrasi (migrasi ide dan pemikiran, migrasi kultural karena sentuhan pariwisata, pendidikan, dan migrasi fisik karena makin banyaknya orang luar yang masuk ke Kotagede). Maka muncul kekhawatiran jangan-jangan kekayaan budaya itu akan kehilangan otentitas, akan mengalami kepunahan secara perlahan-lahan.

Melihat kuatnya nilai sejarah yang ada, ditambah lagi Kotagede ini pula yang menurunkan Kasunanan Solo dan Kasultanan Yogyakarta memiliki adat budaya yang cukup mempesona. Maka, nasib Kotagede alangkah celakanya kalau tidak memiliki arak-arakan alegoris lintasan sejarah secuil pun. Maka dari itu, perlu sebuah revitalisasi dengan menggali dari titik penting sejarah yang tersedia.

Dimulai dari cikal bakal Kraton Mataram dengan tokoh utama Ki Ageng Pemanahan setelah Pajang surut dari gelanggang kekuasaan, maka Mataram menjadi penggantinya. Tujuh tahun setelah meninggalnya Ki Ageng Pemanahan, yakni pada 1582, Sultan Hadiwijaya di Pajang juga meninggal dunia setelah sakit sehabis kalah perang dengan Sutawijaya.

Pangeran Benawa seharusnya yang menggantikan Sultan Hadiwijaya ternyata disingkirkan Arya Pangiri. Sutawijaya terpanggil untuk membela induk semangnya, praja Pajang. Pemberontakan Arya Pangiri berhasil dipatahkan.

Memperhatikan intrik dan suksesi tahta Pajang yang terus menerus pahit, tentu akan menghasilkan sejarah yang gelap sejak Pati Unus berkuasa, Surawinata ayah Arya Penangsang dibunuh Raden Prawoto anak Trenggono, sampai Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir menantu Sultan Trenggono). Sutawijaya menolak meneruskan tahta Pajang, kemudian dia memindahkan dan menyelamatkan tahta Pajang ke Mataram dan menjadi raja bergelar Panembahan Senopati (1575 – 1601).

Dengan demikian Mataram yang semula merupakan sebuah Kadipaten yang tunduk kepada Pajang, kemudian naik statusnya menjadi sebuah kerajaan. Untuk menjadi raja, Sutawijaya selain memboyong tahta (sebuah dampar), juga membawa sipat kandel lainnya berupa pusaka-pusaka kerajaan Pajang, seperti : Gong Kyai Sekar Delima, Jathayu Cekathikan, Myang Kandali Macan Guguh (sumber : Dr. Purwadi, M. Hum, Nyai Roro Kidul dan Legitimasi Politik Jawa, Penerbit Media Abadi, Yogyakarta).

Selanjutnya...
 

Komentar ()


Halaman 1 dari 13

Kontak Kami

Lista
Shinta
Arum

Kalender Event

Last month November 2014 Next month
S M T W T F S
week 44 1
week 45 2 3 4 5 6 7 8
week 46 9 10 11 12 13 14 15
week 47 16 17 18 19 20 21 22
week 48 23 24 25 26 27 28 29
week 49 30

Latest Tweet

Cache folder is unwriteable. Solution: chmod 755 /home/kotaged3/public_html/cache

Statistics

Anggota : 1
Konten : 82
Jumlah Kunjungan Konten : 577714

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday464
mod_vvisit_counterYesterday843
mod_vvisit_counterThis week3794
mod_vvisit_counterLast week3320
mod_vvisit_counterThis month13227
mod_vvisit_counterLast month14146
mod_vvisit_counterAll days364506

Online (20 minutes ago): 20
Your IP: 107.20.34.144
,
Today: Nov 28, 2014

You are here:

Related Links

Sanggar Tari Tejo Arum Kotagede
Salah satu usaha melestarikan seni tradisi, warisan pusaka Kotagede.
Selanjutnya
Perpustakaan Heritage Kotagede
Lokasi : Gandok Tengen Ndalem Ngaliman, Kompleks Sopingen, Prenggan Kotagede
Selanjutnya

Gallery Kotagede

Rombongan peserta pelatihan menyusuri jalan di Sungai Gadjah Wong. Pak Walikota bersama Ibu Catrini dari World Bank dan staf walikota. Peserta pelatihan yang muda yang bersemangat. Yang muda dan pinisepuh kompak berdiskusi. Pak Walikota menanggapi pertanyaan dari warga dengan moderator Pak Ikaputra. IMG_1254 IMG_1146 Ini kipo makanan khas Kotagede. Suasana pelatihan guide III. Pak Walikota bertanda tangan di kop Forum Joglo.